“Mengapa kau menatapku sedemikian, aku jadi risih dan tak bisa terpejam”, katanya suatu malam.
Padahal saat itu saya tidak sedang menatapnya, hanya pandangan kosong menerawang, memikirkan sedang apakah malaikat-malaikat kecilku saat ini sekarang diluar kota sana.
Kujawab saja bahwa tak ada yang bisa dipandang menjelang tidur seperti biasanya, jadi kupandang dia yang sekarang ada di depan mata.
“Apakah selalu itu yang kau pikirkan, anak-anak itu mungkin saja saking gembiranya untuk beberapa hari ini tidak mengingat kita orang tuanya.” sahutnya lagi.
Betul, mungkin mereka sejenak melupakan saya, tapi saya tak akan melupakan mereka sedetik pun dalam setiap tarikan nafas atau kedipan mata ini. Read more

