March 16, 2011 karep sorangan, kuliner 31 Comments
Serabi Tradisional, jajanan nostalgia
Waktu kecil saya sering duduk manis pagi-pagi di tempat jual serabi, di dekat pasar gandok Ciumbuleuit Bandung dan waktu pindah tugas ke Majalengka suka jongkok juga di tukang serabi sekitar jam 5.30an. Penjualnya nenek bermata merah mungkin karena asap pembakaran tungku serabi dari kayu bakar itu yang membuat matanya iritasi terus menerus. Hawa dingin pagi bisa terasa hangat karena kita berada di dekat pembakaran serabi yang menggunakan perapian kayu bakar. Saya mesti jongkok atau duduk di bangku rendah, soalnya lapak serabi jaman itu ada di tanah.
Ternyata ketika pulang ke Majalengka bulan kemarin, saya masih bisa menemukan tempat serabi seperti jaman saya kecil dulu. Dekat RSU Majalengka ada lapak serabi yang masih tradisional, senang bukan main rasanya. Seperti biasa tukang serabi buka pagi-pagi buta, dengan alas trotoar jalan tungku serabi berupa tanah liat dan kayu bakar. Asap mengepul dari arang yang gosong bercampur asap cempor minyak tanah.

