Sore menjelang maghrib ayah dua anak itu pulang dari tempat kerjanya.Benar-benar lelah raganya saat itu. Tiba di rumah, sang istri sibuk menyiapkan malam tapi sempat mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi. Melewati ruang tengah, disapanya anak bungsunya yang tengah menonton tayangan kartu negeri tetangga. Tiba di ruang kerjanya, untuk meletakkan tas kerja dan notebooknya, ia kaget bukan kepalang …
Meja itu benar-benar acak-acakan, beberapa lembar kertas tersisih di lantai . Serpihan kertas sisa pengguntingan teronggok di sisi luar meja bersama gunting, penggaris dan cutter. Ada sisa bekas cat warna dari kuas yang menodai map dan berkas-berkas pentingnya. Betul-betul pemandangan yang buruk! Lelaki itu tidak suka melihatnya, tak pernah selama ini dia atau orang lain di rumah itu mengotori meja pribadinya, dia perfeksionis.
Dari balik punggung meja, menyembul kepala kecil dengan senyum mengembang… “ayah…..” tak sempat melanjutkan kata-katanya, plaakkk!! …sebuah tamparan mendarat di pipinya. Tamparan batang penggaris dari orang yang barusan dipanggilnya ayah. Anak lelaki itu terhempas ke lantai, posisi tubuh ringkihnya yang sedari tadi berjongkok di balik meja membuatnya hilang keseimbangan . Senyumnya digantikan tangisan. ..
Sang ayah tetap kesal, anaknya menjadikan tangis sebagai ganti “keonaran” di ruang kerjanya. Entah mengapa otaknya tak berpikir waras. Masih dengan emosi memuncak, dihardiknya sang anak dengan kasar. “ Apa-apaan kamu ini! Bereskan semua yang kamu perbuat disini… dasar anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu merusak semua kertas kerja ayah…!”
Bukannya merapikan alat tulis dan kertas-kertas, anak sulungnya berhambur keluar ruangan kemudian masuk mengunci pintu kamarnya. Sambil tetap marah-marah, lelaki itu berjongkok memunguti kertas-kertas di lantai. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah lukisan mosaik dari kertas bercat warna warni membentuk gambar dirinya, dibawahnya tertulis kalimat dari spidol berwarna hitam : Happy Birthday ayah… we love you..
Lelaki itu benar-benar kaget saat menyadari telah melakukan hal yang paling buruk terhadap buah hatinya. Tak habis mengerti, dia telah melukai bukan hanya wajah anaknya yang tergores batang penggaris, tapi melukai hatinya yang dalam… Bergegas ke depan kamar anak sulungnya, si ayah mengetuk pintunya : “Nak, … maafkan ayah, ayah tidak tahu…..”
HIKMAH yang dapat diambil dari cerita diatas adalah:
- Jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu, sebab belum tentu hal pertama yang dilihat adalah hal yang sebenarnya. Banyak dari kita yang tidak melihat gambaran secara menyeluruh atas suatu keadaan akibat kondisi fisik dan psikis yang labil.
- Keegoisan orang tua seringkali mengakibatkan pembenaran tindakan keras pada anak, mereka merasa anak hanya seonggok jiwa kecil dalam genggaman.
- Kita seringkali gagal melihat motivasi yang baik dari seseorang akibat terbungkus oleh suatu keadaan yang buruk, sehingga keadaan buruk itu membutakan akal sehat untuk menghargai sebuah proses kreativitas dari seseorang.
- Luka di tubuh atau wajah bisa sembuh dengan sendirinya, tapi luka di hati akan membekas selamanya. Mungkin saja sejak saat itu sang anak tak ingin melukis apapun lagi. Dalam hal ini, kemarahan sesaat hanya membunuh kesempatan seseorang untuk mengembangkan kemampuannya, dia keburu jera.
Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di Blogcamp-nya Pakdhe Cholik.

Ayah yang sadis banget…
Nanti kalo Denuzz udah jadi ayah, gak bakal kayak nih ayah dalam cerita…
Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…
ingat janjinya, jangan jadi orang tua yang kasar mamah tagih nanti
Ikut mendukung kontesnya, semoga berjaya…
Dan semoga pula saya tidak termasuk tipe ayah yang dalam cerita diatas.
Salam!
pak mars ayah yang lembut dan kebapakan kok
Sebagai orang tua seharusnya menyadari, bahwa anak senakal apapun selalu dalam posisi lemah. Mau diapain aja dia takkan bisa menang. Untuk itu hindari kekerasan pada anak.
Nice story, semoga menang yaaa….
Salam kenal
ada pepatah, orang tua selalu benar dan anak selalu salah, pepatah yang salah kaprah saya kira
Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
Artikel anda akan segera di catat
Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya
makasih…makasih pakdhe
ayah kok sensi banget sih…
bukan cuma sensi mbak, tensi juga deh
tapi luka di hati akan membekas selamanya.
Ini hikmah yang sangat telak …
Jadi …
Kita harus berhati-hati dalam bertindak dan berbicara …
terutama kepada anak kita …
Salam saya Bu
Semoga sukses di KUCB nya Pak De
selain fiktif, sepertinya cerita ini kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari om T… luka hati masa kecil bisa terus diingat
makasih dukungannya
Keegoisan orangtua memang sering membuat perkembangan kreatitifitas sang anak menjadi terhambat….
kadang orang tua gak sadar tindakannya berpengaruh pada mental anak
PENUH IMAJINASI… alhamdulillah dapet pelajaran baru tentang melihat sesuatu bukan hanya dari segi dhahirnya saja…… semoga sukses… bales kunjungan ya…
semoga ada manfaat yang bisa dipetik mas
Semoga menang ya mah?
makasih mas..
Apakah itu poto ayahnya Alin mah? Semoga menang ya mah.
itu gambar ilustrasi mas wandi
makasih ya
Kasian di anak, tidak ada penjelasan apapun langsung kena kemplang
ciri-ciri KDRT bisa juga ya mas aldy
mungkin ayahnya capek pulang kerja
atau lagi ada masalah
sehingga kurang bisa mengontrol emosi
Pelajaran yg sangat berharga
Patut menjadi juara!!
Semoga sukses Mbak
itu dia mbak Lyna, mengontrol emosi dalam kondisi lelah apapun..
Cerita penuh hikmah… bagus sekali Mbak… Selamat mengikuti kontes ya… pantas nantinya kalau jadi juara…. Salam kenal….
semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari fiksi ini ya
semoga menang deh…
berhati2lah para ayah, semoga menang ya mamah…
Mbak, ceritanya keren. Penggambaran tokoh ayah disini kena banget!
Semua yang mbak simpulkan juga saya sependapat. Apalagi yang nomor satu, aduuuuuh, saya lagi kena fitnah di dunia maya soalnya…
*hehe, curcol dikit nggak apa-apa kan*
Huaaaa…Mama…..jadi gimana gitu bacanya…..mencoba di posisi si anak kecil sediiiihhhhh
Semoga saya bisa ambil hikmanya…
Menyedihkan sekali si anak mendapatkan perlakuan yang kasar dari ayahnya. Meski lelah sekalipun, harusnya si ayah mampu meredam emosinya karena rasanya tidak pantas memperlakukan anak dengan cara seperti itu tanpa melihat dulu masalahnya
luka hatinya juga telah memupuskan kreatifitas anak.
semoga menang kontesnya ya mba
banyak nilai bisa diambil dari cerita singkat di atas.
makasih sharingnya mba
sukses dengan kontesnya!
huhu… jadi pengen nangis bacanya.
tapi terkadang emosi bikin kita gelap mata. nggak mikir apa-apa lagi, ego langsung keluar.
sangat banyak hikamah yang didapat sebagai orangtua dari cerita diatas, mamah..
memang sangat benar adanya,, semua masalah beban pikiran diluar rumah, cukup sampai pintu pagar aja, tarok disitu baru masuk,, besok berangkat ngantor, ambil lagi tuh beban masalahnya..
berjaya dikontesnya KUCB yaa..
love this…..
smoga Tuhan melindungi kita dr ‘menjadi orang tua spt itu’ amiin..
semoga juwara…
Jadilah orangtua yang bijak dalam menegur kesalahan.Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. terima kasih atas cerita kehidupan yang penuh hikmah, salam hangat
orangtua terutama ibu harus bisa menahan emosi sebelum mengetahui cerita keseluruhan. apalagi kalau ibu sampai mengutuk…kasihan anaknya
EM
ayah yang sadis..takuut..!!
hiks2,kayanya harus terus belajar tentang bagaimana menjadi orang tua yang baik dan benar..
jangan sampai melukai hati anak hiks2 kasian..
sukses mam sama kontesnya..
Wah saya terharu mbacanya mah, semoga nanti saya bisa jadi orang tua yang baik, ohya semoga menang ya mah lombanya,
semoga menang mas… terharu bacanya
Semoga dapat jadi pelajaran berharga untuk semua ayah.. (dan ibu juga) bahwa bagaimanapun nakalnya anak, pasti akan ada sisi baik dan lembut bila ditangani dengan lembut.
sip bgt Cermin nya mah…
moga berjaya…
sukses…
papah yang seperti ini hanya akan membuat anaknya selalu berpikiran negatif tentang seorang ayah…
Seperti salah seorang teman saya yang (katanya) tak kan memaafkan ayahnya selamanya
cerita yang sangat berkesan….
aku suka banget ….
-salam kenal-
Ayah hanya terbawa emosi sesaat tp anak bisa trauma seumur hidup,
Semoga semua orang tua bisa memetik pelajaran dan semua anak bisa terus menyayangi dan menghormati orangtua dalam kondisi apapun.
Semoga menang…
ehm….
Salam kenal
selamat pagi.
awalnya kayak adegan sinetron,
tapi ending nya bagus
penuh hikmah
terima kasih dan mohon maaf
Wah mantap ceritanya semoga bisa menjadi nominasi dan memenangkan kontes ya teh sukses salalu.
Salam
anakmu bukanlah anakmu, ia adalah amanah yang harus dijaga, bukan untuk dijadikan pelampiasan amarah. Tidak mudah memperbaiki keadaan bila emosi lebih dulu di kedepankan.
Bukan sekedar tulisan untuk kontes, tapi benar2 mengingatkan, khusunya karena aku juga seorang ayah.
aku sayang abi, karena abi ku tak seperti ayah bocah itu.
Salam Gowes
mampir sebentar nengok peserta yang sedang berhikmah di kontes pakde Cholik, setelah selesai membaca mau berdoa semoga mendapatkan tali asih dari susu kaleng cap Humber.. izin gowes lagi mba ting tong
Salam Gowes Humbrqu
realitanya kejadian seperti sosok ayah di atas sering terjadi..namun yang besar hati lapang dada alias gentleman meminta maaf seperti cerita di atas relatif jarang.
*Sukses ya Mama…
Cerita yang bagus, mudah-mudahan para ayah membaca postingan ini, agar mereka tau cara memperlakukan seorang anaknya..
Superb posting, I share the same views. I wonder why this particular world truly does not picture for a moment like me and also the blog site creator
selamat mamah masuk dalam 3 Besar K.U.C.B
semoga cerita ini memberi hikmah bagi semua orang tua, bahwa anak adalah karunia yang harus dijaga dan dibimbing
semangat terus berbagi
salam hangat
Baru baca! Selamat ya mamah aline!
Cihuy!!!!
Selamat aja buat keberhasilannya…
chika rei berkunjung^^
selamat ya mama aline tulisannya menang^^
salam kenal dari chika
selamat atas kemenangnnya ya……
kalau mau, gabungan di grup fb khusus blogger di http://www.facebook.com/home.php?sk=group_120411931351779&ap=1
[...] emosi begitu saja. Kenyataannya si anak sedang menyiapkan sebuah kejutan ulang tahun untuknya, sebuah lukisan dari mosaik kertas. Itikad baik tak terlihat ketika seseorang sedang mengalami [...]