November 4, 2010
mamah aline
Fenoma
Diganggu makhluk halus sebangsa jin? tidak pernah sih…
Tapi entah perasaan saya atau bukan, lima tahun lalu malam saat packing barang buat dimasukin ke truk pindahan ke Ciamis serasa ada yang menyapa kami dari arah genting rumah seperti bilang neng.. neng… kurang lebih begitu. Beneran deh, hubby juga merasakan hal demikian…
Dan minggu lalu mau tak mau saya harus mengakui kalau rumah saya di Majalengka sudah berpenghuni alias ada penunggu dari dunia ghaib. Awalnya tahu ada someone else itu saat rumah kosong kami direnovasi agar bisa disewakan dengan harga wajar, saat itulah gangguan datang pada para pekerja berupa suara dan derit pintu terbuka. Berhubung udah lama kosong, kayaknya ada jin nyasar yang ngontrak duluan…
Ternyata benar, saat ustadz yang diundang datang beliau menyatakan ada beberapa sosok jin atau makhluk gaib yang bersemayam. Salah satunya ada di lukisan pahatan kayu bergambar dua kuda di dekat ruang keluarga! Tadinya pahatan ini menarik untuk pemanis ruang. Saya baru tahu juga lukisan atau patung pahatan gambar binatang atau manusia sebenarnya tidak boleh dipasang di rumah, malakikat enggan untuk datang dan memberi shalawat di rumah kita. Meski bersebelahan dengan kaligrafi sekalipun, saya salah kaprah memahami konsep keindahan ruangan.
Incoming search terms:
lukisan pahatan:
dunia lain:
syahadat pembuka alam gaib:
Setiap rumah ada penghuni:
salam untuk makhluk halus atau jin:
pelukis mahluk alam lain:
mushola lukisan:
makhluk halus atau jin:
diganggu oleh jin dengan dipanggil:
kehidupan makhluk dunia lain:
Ingin mengetahui lebih dalam mengenai dunia ghaib dunia mahluk halus:
foto makhluk dunia lain:
Dunia makhluk jin:
dunia makhluk halus:
dunia lain majalengka:
ustad usir penghuni jin
October 26, 2010
mamah aline
catatan hikmah, Uncategorized

Dalam sudut pandang yang sama, orang bisa saling menukar isi pikiran bahkan kebanggaan bersama orang lain tanpa punya tendensi apapun… semua seimbang dan sejalan dalam skala pemikiran dan posisi sama …
Tapi sebuah pengalaman nyata dari seorang,menjadi menarik untuk saya tulis berdasar apa disampaikannya padaku waktu lalu. Ada hal yang mengganjalnya ketika mengajak saudaranya dalam pertemuan bisnis bersama pengusaha lainnya. Pada saat itu_dimana si saudara adalah bagian dari marginal dari komunitas itu_ mereka saling cerita rencana usaha, cerita soal apa yang dipunya, bahkan yang baru akan dipunya dan si saudara hanya penggembira yang sesekali senyum dan mengangguk _ sikap lain selain diam mendengarkan.
“Sungguh, aku ngerasa udah mendzalimi saudaraku waktu itu… dan menyesal melibatkan dia dalam urusan yang sama sekali gak berhubungan dengan kepentingannya. Dia seperti bebek dalam sekumpulan angsa-angsa gagah rupawan.” Dalam hal ini, perbedaan status sosial bisa menyudutkan seseorang dalam rasa iri dan rendah diri.
Bagaimana dengan si saudara? entah apa yang ada didalam hatinya, mungkin dia sama sekali tidak merasa sakit atau terpengaruh dengan kondisi sosial orang lain, mungkin saja dia menikmati obrolan panjang itu tanpa perlu masuk ke kepalanya atau mungkin juga sikap diam menunjukkan rasa lemah dan tak berdaya untuk berada pada posisi yang sama dengan mereka…
Apa kita pernah mengalami hal serupa? dalam posisi yang sama seperti teman saya bersama teman-teman “the have”nya atau sebagai pihak kedua?
Incoming search terms:
cerita perencanaan usaha: